Menu Horizontal

Senin, 13 Juli 2015

Wish in Winter



Title: Wish in Winter
Author: TaraChun
Genre: Romance
Cast: - Zac Efron
          - Emma Watson

“Daddy!” teriakan histeris meluncur dari bibir mungil yang kini bergetar diikuti isak tangis dari gadis kecil dengan rambut cokelat panjang bergelombangnya.

Ia menatap nanar sebuah mobil yang melaju kencang meninggalkannya seorang diri, lelah untuk terus berlari mengejar mobil itu. Jadi inikah akhir hidupnya sekarang? Dibuang oleh orang yang ia panggil daddy ketika baru mulai bisa mengucapkan sebuah kata. Ironisnya. Kenapa bukan mommy kata pertama yang keluar dari bibirnya ketika baru bisa bicara?

Air mata itu terus mengalir seiring dengan isakannya yang semakin keras. Ditemani oleh dinginnya malam tanpa pakaian tebal yang dapat menghangatkan dirinya, hanya sebuah kaos tangan panjang di tengah-tengah butiran dingin seputih kapas yang terus turun menyelimuti bumi.

Gadis kecil malang berdiri sendirian tanpa ada seorang pun yang tergerak hatinya untuk menolong. Mereka hanya lewat dan sekadar menatap iba ke arahnya kemudian berlalu begitu saja. Mungkin manusia di dunia ini sudah tak memiliki hati nurani karena membiarkan gadis kecil sepertinya kedinginan sambil memeluk tubuhnya, berusaha menghangatkan diri.

Melangkah tak tentu arah hingga akhirnya menemukan sebuah kursi yang diselimuti salju, gadis kecil itu menghempaskan tubuh lelahnya. Bersandar pada kursi taman dengan mengangkat kedua kaki ke atas, memeluk lututnya dan menyembunyikan kepala dengan bibir yang sudah membiru menahan dingin di balik lututnya.

“Mommy, aku ingin bertemu pangeran Cinderella. Tolong … aku!”

Usai mengucapkan kalimat itu, tubuh kecilnya yang rapuh kini sudah terbaring kaku masih dalam keadaan memeluk lutut di kursi taman itu. Hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang-tulang sudah tak mampu ia tahan lagi. Sisa air mata membasahi pipi putih pucatnya yang lembut.

***

Selasa, 26 Mei 2015

Innocent Mine (Ficlet)




Title: Innocent Mine
Author: TaraChun
Genre: Romance, Thriller, Sci-fi

Disclaimer : This story is mine, don't be plagiator! Happy reading ^_^

Perbedaan itu awalnya tak terlihat jelas namun seiring berjalannya waktu aku mulai menyadari jika kami memang berbeda. Jauh berbeda dan takkan pernah bisa bersatu. Menjadikan sebuah perbedaan sebagai jembatan pemisah adalah hal yang paling kubenci. Yah, karena aku merasakannya sendiri.

Pandangan yang kosong bahkan nyaris tak bernyawa hingga mungkin kadang orang-orang akan berpikir apakah dirinya nyata atau khayalan? Dia nyata dan aku salah satunya yang meyakini itu atau lebih tepatnya mengetahui hal ini. Dan sekarang aku akan mencari orang yang membuatnya terlihat hanya khayalan.

“Orang itu harus dimusnahkan dari dunia ini!”

Itu adalah janjiku sejak pertama kali mengetahui fakta tentangnya. Aku takkan pernah memaafkan orang yang membuatnya seperti ini. Meski harus bermandikan darahnya aku rasa itu akan sangat setimpal dengan apa yang akan diterima.

Perlahan aku berjalan mendekatinya yang masih setia duduk di tempat favoritnya. Sebuah ayunan kursi santai yang sengaja aku sediakan di balkon kamar ini untuknya. Aku bersyukur karena selama berada di sini gadisku menjadi lebih tenang.

“Aku akan pergi dan segera kembali. Tenanglah, kau aman di sini!” 

Ia menoleh padaku yang kini sudah berlutut menyamakan diriku dengannya. Oh, sungguh perih melihat betapa kosongnya mata indah yang membuatku jatuh cinta padanya. Tak pernah kulihat binar bahagia sedikit pun di matanya.

“Promise?” aku memberikan kelingkingku yang tak perlu menunggu lama untuk mendapat sambutan darinya.

Harapan untuk melihat sebuah lengkungan manis di bibirnya tak pernah terwujud hingga saat ini. Manik almondnya pun tak pernah menampakkan kilauan bintang padahal aku yakin pasti akan terlihat sangat mempesona. Semua itu membuatku semakin yakin untuk menghancurkan orang yang sudah membuatnya menjadi seperti ini.

“Semuanya akan segera berakhir, sayang. Aku berjanji akan melepaskanmu dari belenggu ini,” ujarku seraya mengecup keningnya lalu beranjak pergi untuk menyelamatkan gadis tak berdosa ini.

Yah, bagiku Barbie seorang gadis tak berdosa karena ia sendiri tak pernah mengetahui apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya. Entah sejak kapan hal itu terjadi pada dirinya karena sejak pertama kali bertemu dengannya memang sudah dalam keadaan seperti ini. Satu hal yang selalu aku tekankan pada diri sendiri sejak hari itu bahwa aku akan selalu bersamanya apapun yang terjadi.

***

Lyra Constellation (Ficlet)


Title : Lyra Constellation
Author: TaraChun
Genre: Romance, Fantasy
Cast: ~ find by yourself

Disclaimer : This story is mine, don't be plagiator! Happy reading ^_^


Warning : Typo bertebaran >_< 


Secara singkat mereka tak bisa bersatu kembali karena keraguan menjadi sumber dari sebuah kehancuran. Rasa percaya pada ketakutan membuat kehilangan sesuatu yang berharga. Menyesal? Takkan bisa mengembalikan lagi semua yang telah hilang. Yah, sungguh ironis.

Setiap mereka yang selesai membaca atau mendengar kisah ini pasti tak pernah jauh dari air mata. Entahlah. Seolah kisah mereka menjadi suatu hal yang memang mewajibkan bagi setiap manusia ikut menangis karena perpisahan dan penyesalan dari awal kebahagiaan.

“Andai saja Orpheus tak menoleh ke belakang pasti ia akan bahagia dengan Eurydike,” suara lembut yang berbaur dengan jutaan bintang di langit malam itu bagai nada terindah yang menemani malam dengan diirikan petikan harpanya.

“Sudah kukatakan berulang kali padamu, Lyra. Kau terlalu menghayati membaca kisah Mitologi Yunani Kuno itu. Sekarang sudah zaman modern dan tak ada yang percaya dengan kisah seperti itu,” balas sebuah suara lainnya dari dalam kamar setelah mendengar ucapan gadis manis yang tengah menatap bintang di langit malam bersama petikan harpanya.

“Jika tidak ada yang percaya akan hal itu maka takkan pernah ada orang yang menulis buku seperti ini Vega.”

Yah, kedua gadis bersahabat itu tak lain Lyra dan Vega seperti biasanya berdebat kecil karena kisah Mitologi Yunani tentang romantisme Orpheus dan Eurydike. Lyra yang selalu membaca cerita itu setiap malamnya seolah menjadikan sebagai pengantar tidur sedangkan Vega yang bosan mendengar keluhan sahabatnya dengan selalu pertanyaan yang sama.

“Andai Orpheus tak menoleh ke belakang pasti ia akan bahagia bersama Eurydike.”

Selalu kurang lebih seperti itulah yang diucapkan Lyra setelah membaca kisah romantisme itu. Kebiasaan yang sudah diketahui oleh Vega sejak mereka pertama kali masuk asrama dan menjadi teman sekamar. Tak pernah sehari pun kalimat seperti itu berhenti keluar dari bibir Lyra.

“Baiklah! Terserah kau saja, aku mau tidur dan berhenti memetik harpamu!”

Akhirnya selalu Vega yang mengalah dengan kebiasaan Lyra tersebut. Yah, anggap saja angin lalu, begitulah isi pikiran Vega. Seperti permintaan sahabatnya, Lyra pun berhenti memtik harpanya dengan pandangan masih lurus ke langit, memerhatikan bintang-bintang yang bertaburan dengan indahnya meramaikan malam gelap.

“Selamat malam bintang-bintang, kuharap malam ini mendapat mimpi indah,” ujar Lyra seraya masuk ke dalam kamar dan meletakkan harpanya dengan sangat hati-hati seakan seperti kristal yang mudah pecah.

***

Sabtu, 24 Januari 2015

Rose Destiny (Part 5)


Author:: TaraChun
Main Cast::    Jiro Wang as Wang Da Dong
                        Rainie Yang as Yang Cheng Lin
Support Cast:: Fahrenheit, Mike He, Ariel Lin Yi Chen, Yang Fan | HIT– 5
Genre:: Fantasy, Romance
Length:: Chapter

Disclaimer:: Saya membuat cerita akan selalu berkaitan dengan Fahrenheit karna saya amat sangat mengagumi mereka. Buat yang baca harap komen kritik dan saran nya. Silahkan mengcopy tapi jangan mengakui itu karya kalian. Makasih.

Older Post: Part 1 , Part 2 , Part 3 , Part 4 

Prev Part  


“Apa maumu, hah?” bentak Yi Chen seraya berdiri tepat di depan Cheng Lin.


“Mauku?” Mike menyeringai semakin lebar, sungguh terlihat menakutkan. “Aku hanya ingin menjemput Queen of Oleander, calon istriku,” sahutnya semakin mendekat sementara kedua gadis itu mulai berjalan mundur.

“Aku tidak akan membiarkanmu membawa Cheng Lin,” Yi Chen masih merentangkan tangannya, mewaspadai gerakan Mike yang mungkin saja sama cepatnya seperti gerakan para vampire itu. Ia tidak mau melakukan kesalahan.



“Apa kau pikir aku akan menjadikan musuhku sebagai calon istri, hmm?” tanya Mike penuh penekanan seraya menampakkan kembali seringai iblisnya.

“A – apa maksudmu?” nada bicara Yi Chen yang semula penuh emosi kini berubah gugup dan ketakutan.

“Sepertinya kau cukup pandai untuk mengetahui maksudku, my queen,” sahut Mike yang kini sudah berada tepat dihadapan Yi Chen. Jarak mereka hanya terpaut sepuluh sentimeter.

Cheng Lin sendiri terlihat sudah mencerna dengan baik maksud ucapan Mike barusan. Ia terlihat panik sekarang dan dengan cepat menarik Yi Chen ke balik tubuhnya. Giliran dirinya yang melindungi Yi Chen dari Mike. Namun, sayangnya Cheng Lin masih seorang manusia sekarang. Tubuhnya kalah sigap dari Mike yang notabene memiliki kekuatan khusus. Bahkan Mike kini sudah berada di belakangnya dan menarik Yi Chen ke dalam dekapannya.

Damn! Sahabatnya sudah terkurung dalam dekapan posesif Mike sang Prince of Oleander. Yi Chen terus berusaha berontak namun tak ada hasilnya. Kekuatannya habis sudah dan tubuhnya lemas karena terlalu banyak mengeluarkan tenaga. Dalam sekejap mata mereka menghilang. Mike membawa Yi Chen pergi, sahabat terbaiknya menghilang.


“CALVIN! CALVIN! CALVIN!” Cheng Lin terus memanggil nama itu dalam hatinya, ia ingin menjerit namun akal sehatnya masih cukup berjalan baik. Saat ini ia sedang berada di sekolah, tak mungkin meneriakkan nama itu sekeras-kerasnya. Isakan tangis semakin keras terdengar dari bibirnya. “CALVIN! CALVIN!” lagi ia memanggil nama itu.


***


Saat ini di REGENNIS KINGDOM sedang disibukkan acara penyambutan kepulangan King and Queen dari REGNUM UNION. Terlihat dari seberapa antusiasnya para bangsa vampire itu menanti kabar baik dari King and Queen mereka. Berharap sudah ada jalan keluar dari mimpi buruk para makhluk immortal itu dari ancaman kepunahan.

“Semua persiapan sudah selesai?” Prince Evan datang bersama dengan Fahrenheit, memeriksa sampai sejauh mana persiapan pesta penyambutan sudah dikerjakan.

“Hampir selesai, putera mahkota,” sahut salah satu vampire yang bertugas untuk mengkoordinasi jalannya persiapan pesta penyambutan.

“Baiklah! Fahrenheit, ayo pergi!”

Perintah yang mutlak, tak terbantahkan oleh putera mahkota REGENNIS KINGDOM. Tanpa basa-basi dan menunggu lama, Fahrenheit langsung menghilang menuju ruang pertemuan bersama Prince Evan. Tentu, ada masalah serius yang harus mereka bahas.

“Jadi kakakku benar-benar akan segera kembali? Ia tidak merepotkan kalian kan?” pertanyaan Prince Evan ini sebenarnya lebih menjurus pada sosok vampire yang memiliki Fire Control pada dirinya.

“Memang sudah seharusnya kau bertanya padaku, ‘putera mahkota’! Di sini akulah yang menjadi korbannya,” sahut Jiro yang langsung menjawab pertanyaan pangeran mereka dengan menekankan kata ‘putera mahkota’.

“Oh! Benarkah?” pandangan Prince Evan memutar ke anggota Fahrenheit lainnya dengan dibalas seringaian oleh ketiga vampire tampan itu.

“Kalian semua memang bersekongkol!”

Tak ada yang membalas ucapan Jiro, mereka hanya mengangguk bersamaan seraya memamerkan evil smirk masing-masing. Menikmati karena berhasil membuat seorang Fire Control kembali bermain dengan auranya sendiri.

“SIAL!” geraman terlontar tiba-tiba dari bibir Calvin dan Prince Evan membuat ketiga vampire lainnya melihat mereka berdua yang saling tatap secara bergantian.

“Cepat pergi!” perintah Prince Evan dan saat itu juga Fahrenheit menghilang.

Kamis, 08 Januari 2015

[New Project] Dark Cast (Cast & Sinopsis)




Author: TaraChun
Genre: Romance, Crime
Length: Series
Cast:   Angela Zhang as Carol Antholine
Wu Chun as Edgar Wingston
Other Cast:    Aaron Yan as Leins Philip
                        Gui Gui as Sheila Montanie
                        Joe Cheng as Lucas Kennedy
                        Wang Zi as Felix Reynolds

PERKENALAN CAST


Carol Antholine: Gadis remaja berusia 18 tahun, polos dan baik hati serta penurut namun dibalik itu semua ia anak yang jenius. Selalu mematuhi perintah ayahnya karena kejadian di masa lalu yang membuat ia trauma dan takut pada ayahnya sendiri. Tak lagi berbicara sejak usia lima tahun karena hal yang menyebabkan traumanya.