Menu Horizontal

Jumat, 27 Juli 2018

DEVIL



Berlari. Hanya ini yang bisa kulakukan tiap kali sosok itu muncul. Entahlah, siapa sebenarnya sosok aneh yang beberapa hari belakangan ini selalu mengikutiku. Aku sendiri tak tahu tapi aku bisa merasakan sesuatu yang aneh beberapa hari ini.

Setiap kali aku melewati mansion itu, seperti ada yang mengawasiku namun apa? Aku pun tak tahu tapi aku yakin ada sesuatu di sana. Mansion tua yang kabarnya sudah ditinggal oleh para penghuninya sejak beratus-ratus tahun lamanya.

Aku selalu merasa merinding jika melewatinya terlebih di malam hari. Aku sendiri bingung dan sering bertanya pada warga sekitar kenapa bisa mansion seperti itu ada di tengah kota Taipei seperti ini? Bangunan itu seperti kastil kuno yang berada di Eropa, sama seperti ketika aku di Roma dulu.

Hosh … Hosh … Hosh …

Akhirnya aku sampai di apartemen, merepotkan sekali jika harus selalu pulang malam seperti ini. Aku masih anak kuliah dan sejujurnya aku termasuk anak dari keluarga yang disegani tapi kadang aku merasa risih dengan orang-orang sekitarku. Jadi aku pikir lebih baik tinggal sendiri di apartemen agar aku bisa lebih mandiri.

“Ah, tadi sepertinya aku melihat bayangan hitam ketika melewati mansion itu. Bukankah mereka bilang kalau di sana sudah tak berpenghuni?”

Jujur saja, hawa yang luar biasa aneh dan menakutkan selalu membayangiku jika mengingat akan mansion itu. Memang ada yang mengurus dan membersihkan bagian luarnya setiap hari tapi orang itu terlalu misterius. Ia tak pernah berkomunikasi dengan siapapun.

“Sudahlah Yu Fei, jangan kau pikirkan lagi!” aku selalu mensugesti diri sendiri untuk tak memikirkan apapun tentang mansion tua nan megah itu.

Hari ini tubuhku rasanya lelah sekali, seharian aku disibukkan oleh tugas-tugas kuliah yang menumpuk. Setelah membersihkan diri, aku bersiap untuk tidur. Perutku memang terasa lapar tapi sayangnya mata ini benar-benar sudah sangat lelah.

***

Lagi. Ia masih saja terus mengejarku. Sungguh aku sudah tak kuat lagi untuk terus berlari. Langkahku semakin melemah dan kini aku sudah semakin masuk ke dalam hutan. Aku sendiri tak mengerti apa yang terjadi dan apa yang membawaku hingga bisa sampai ke hutan ini.

“Kau takkan pernah bisa lari dariku, Yu Fei!” suara itu menggema dalam hutan ini, berat dan menyeramkan.

“Astaga, apa yang harus kulakukan? Aku sungguh tak kuat lagi berlari,” kakiku benar-benar sudah lemah sekarang, nafasku semakin memburu.

Bayangan itu, sosok yang selama ini selalu mengikutiku semakin lama semakin dekat. Jelas dan aku bisa melihat sosoknya dengan mataku sendiri. Ia memiliki tubuh tinggi menjulang dengan sayap hitam di punggungnya. Kuku yang panjang dan sangat menyeramkan serta taring yang melebihi makhluk penghisap darah bernama vampire yang sering kulihat di televisi.

Menyeramkan. Aku takut, sungguh. Tubuhku gemetar seiring jaraknya yang kian mendekat. Kuku-kuku panjang itu perlahan menyusuri wajahku dan bisa kurasakan betapa dinginnya. Aku menangis tanpa suara, bukannya sengaja tapi memang aku seakan tak memiliki suara sama sekali. Berulang kali aku berusaha untuk bicara tapi tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirku.

Kuku-kuku panjang itu mulai turun ke leherku, mencekiknya hingga membuatku sulit menghirup oksigen. Sesak sekali. Aku tak mengerti kenapa ia terus saja mengincarku. Kini aku bisa merasakan tubuhku melayang semakin tinggi dan cairan berwarna merah itu mengalir dari leherku mulai menjalari kuku-kuku hitamnya.

“Kau harus menjadi milikku, Yu Fei!” suara itu.

Aku kenal suaranya, tapi sulit bagiku untuk mengingat wajah pemilik suara itu. Aku hanya bisa pasrah jika harus mati sekarang. Rasanya oksigen dalam paru-paruku semakin menipis. Pandanganku mengabur dan aku tak ingat apa-apa lagi.

***

Hosh … Hosh … Hosh …

Nafasku memburu, aku terbangun dalam keadaan tubuh basah penuh keringat. Mimpi buruk itu datang lagi. Beberapa hari sejak merasa diikuti oleh sosok aneh, aku selalu mengalami mimpi buruk yang sama.

“Tunggu! Di mana aku?” sadar dari mimpi buruk barusan, aku melihat sekeliling dan bisa dipastikan ini bukanlah kamar apartementku.

Kamar ini gelap dan hawanya sangat mengerikan, sama seperti suasana hutan dalam mimpiku. Aku hanya bisa meringkuk di atas tempat tidur ini, tak tahu harus berbuat apa? Aku sendiri sekarang tak tahu sedang berada di mana?

Trek …

Aku merasakan ada yang mulai berubah dari kamar ini. Suasananya terasa semakin mencekam. Oh God! Apa yang terjadi padaku saat ini? Rasanya seperti ketika sosok hitam itu mendekatiku. Namun, aku tak bisa melihat siapa-siapa di sini. Terlalu gelap. Siapa yang memadamkan lampu? Aku takut.

“Sudah bangun, sayang?” suara ini lagi.

“Siapa kau?” tanyaku memberanikan diri walau dengan nada bergetar ketakutan.

“Jangan takut, Yu Fei! Aku pemilikmu,” sahut suara itu dengan nada yang luar biasa menyeramkan.

Hawa berubah menjadi sangat dingin persis seperti hawa dalam hutan di mimpiku tadi. Apakah aku benar-benar akan mati sekarang? Jujur, aku belum siap tapi apa yang bisa kulakukan?

“Kumohon, jangan sakiti aku!” pintaku memelas kasihan dari sosok yang entah siapa dan berada di mana saat ini.

Aku masih terus berusaha mengingat suara itu, benar-benar terdengar familiar di telingaku. Namun, belum selesai mengingatnya aku merasa ada tangan dingin yang menyentuh pipiku. Keringat terus keluar dan membasahi tubuhku.

Lampu menyala dan sekarang aku bisa melihat Gu Zhan berada di hadapanku dengan seringaian menyeramkan. Ia adalah teman sekelasku di kampus dan juga termasuk sainganku. Aku tak menyangka jika sekarang harus berhadapan dengan orang ini.

“Kau! Kenapa kau membawaku kemari, hah?” bentakku padanya walau sebenarnya aku sangat takut melihat seringaian itu.

Gu Zhan menyeringai semakin lebar dan berbisik tepat di telingaku. Sesuatu yang sangat mengejutkan dan mengerikan mendengarnya. Sungguh, aku tak menyangka jika harus berakhir seperti ini.

“Welcome to my mansion and the devil’s world. Aku mencintaimu sayang dan kau harus menjadi iblis untuk menjadi istriku, maka kau harus mati di tanganku.”

Tidak! Aku tak pernah menginginkan hal ini terjadi padaku. Aku tak mau menjadi iblis. Apa dia bilang? Mati? Aku yakin dia pasti gila.

Perlahan, ia menjauh dari tubuhku. Shock. Itulah yang terjadi padaku saat ini. Tepat di hadapanku, pria ini berubah menjadi sosok mengerikan yang aku temui di hutan dalam mimpiku tadi. Benarkah aku harus mati?

Ia lagi-lagi mendekatiku dengan tangan kuku-kuku hitam dan panjangnya yang sudah bergerak siap mencekik leherku. Taring yang tajam itu muncul, sangat menyeramkan. Inikah sosok iblis sebenarnya? Apakah karena iblis ini mencintaiku maka aku harus mati? Lalu apa yang terjadi jika aku mati? Benarkah aku harus menjadi iblis sepertinya?

Nafasku tercekat, ia benar-benar ingin membunuhku. Setelah mencekikku hingga lemas sekarang bisa kulihat sosok menyeramkan ini mendekatkan bibirnya ke leherku. Sakit sekali. Rasanya ada yang mengoyak leherku. Apakah aku sudah mati sekarang? Aku tak kuat. Ini terlalu menyiksa dan sangat menyakitkan. Aku sudah tak bisa merasakan apa-apa lagi. Tubuhku mati rasa dan entah apa yang terjadi padaku nanti? Mungkin semua sudah berakhir.

END

Senin, 13 Juli 2015

Wish in Winter



Title: Wish in Winter
Author: TaraChun
Genre: Romance
Cast: - Zac Efron
          - Emma Watson

“Daddy!” teriakan histeris meluncur dari bibir mungil yang kini bergetar diikuti isak tangis dari gadis kecil dengan rambut cokelat panjang bergelombangnya.

Ia menatap nanar sebuah mobil yang melaju kencang meninggalkannya seorang diri, lelah untuk terus berlari mengejar mobil itu. Jadi inikah akhir hidupnya sekarang? Dibuang oleh orang yang ia panggil daddy ketika baru mulai bisa mengucapkan sebuah kata. Ironisnya. Kenapa bukan mommy kata pertama yang keluar dari bibirnya ketika baru bisa bicara?

Air mata itu terus mengalir seiring dengan isakannya yang semakin keras. Ditemani oleh dinginnya malam tanpa pakaian tebal yang dapat menghangatkan dirinya, hanya sebuah kaos tangan panjang di tengah-tengah butiran dingin seputih kapas yang terus turun menyelimuti bumi.

Gadis kecil malang berdiri sendirian tanpa ada seorang pun yang tergerak hatinya untuk menolong. Mereka hanya lewat dan sekadar menatap iba ke arahnya kemudian berlalu begitu saja. Mungkin manusia di dunia ini sudah tak memiliki hati nurani karena membiarkan gadis kecil sepertinya kedinginan sambil memeluk tubuhnya, berusaha menghangatkan diri.

Melangkah tak tentu arah hingga akhirnya menemukan sebuah kursi yang diselimuti salju, gadis kecil itu menghempaskan tubuh lelahnya. Bersandar pada kursi taman dengan mengangkat kedua kaki ke atas, memeluk lututnya dan menyembunyikan kepala dengan bibir yang sudah membiru menahan dingin di balik lututnya.

“Mommy, aku ingin bertemu pangeran Cinderella. Tolong … aku!”

Usai mengucapkan kalimat itu, tubuh kecilnya yang rapuh kini sudah terbaring kaku masih dalam keadaan memeluk lutut di kursi taman itu. Hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang-tulang sudah tak mampu ia tahan lagi. Sisa air mata membasahi pipi putih pucatnya yang lembut.

***

Selasa, 26 Mei 2015

Innocent Mine (Ficlet)




Title: Innocent Mine
Author: TaraChun
Genre: Romance, Thriller, Sci-fi

Disclaimer : This story is mine, don't be plagiator! Happy reading ^_^

Perbedaan itu awalnya tak terlihat jelas namun seiring berjalannya waktu aku mulai menyadari jika kami memang berbeda. Jauh berbeda dan takkan pernah bisa bersatu. Menjadikan sebuah perbedaan sebagai jembatan pemisah adalah hal yang paling kubenci. Yah, karena aku merasakannya sendiri.

Pandangan yang kosong bahkan nyaris tak bernyawa hingga mungkin kadang orang-orang akan berpikir apakah dirinya nyata atau khayalan? Dia nyata dan aku salah satunya yang meyakini itu atau lebih tepatnya mengetahui hal ini. Dan sekarang aku akan mencari orang yang membuatnya terlihat hanya khayalan.

“Orang itu harus dimusnahkan dari dunia ini!”

Itu adalah janjiku sejak pertama kali mengetahui fakta tentangnya. Aku takkan pernah memaafkan orang yang membuatnya seperti ini. Meski harus bermandikan darahnya aku rasa itu akan sangat setimpal dengan apa yang akan diterima.

Perlahan aku berjalan mendekatinya yang masih setia duduk di tempat favoritnya. Sebuah ayunan kursi santai yang sengaja aku sediakan di balkon kamar ini untuknya. Aku bersyukur karena selama berada di sini gadisku menjadi lebih tenang.

“Aku akan pergi dan segera kembali. Tenanglah, kau aman di sini!” 

Ia menoleh padaku yang kini sudah berlutut menyamakan diriku dengannya. Oh, sungguh perih melihat betapa kosongnya mata indah yang membuatku jatuh cinta padanya. Tak pernah kulihat binar bahagia sedikit pun di matanya.

“Promise?” aku memberikan kelingkingku yang tak perlu menunggu lama untuk mendapat sambutan darinya.

Harapan untuk melihat sebuah lengkungan manis di bibirnya tak pernah terwujud hingga saat ini. Manik almondnya pun tak pernah menampakkan kilauan bintang padahal aku yakin pasti akan terlihat sangat mempesona. Semua itu membuatku semakin yakin untuk menghancurkan orang yang sudah membuatnya menjadi seperti ini.

“Semuanya akan segera berakhir, sayang. Aku berjanji akan melepaskanmu dari belenggu ini,” ujarku seraya mengecup keningnya lalu beranjak pergi untuk menyelamatkan gadis tak berdosa ini.

Yah, bagiku Barbie seorang gadis tak berdosa karena ia sendiri tak pernah mengetahui apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya. Entah sejak kapan hal itu terjadi pada dirinya karena sejak pertama kali bertemu dengannya memang sudah dalam keadaan seperti ini. Satu hal yang selalu aku tekankan pada diri sendiri sejak hari itu bahwa aku akan selalu bersamanya apapun yang terjadi.

***

Lyra Constellation (Ficlet)


Title : Lyra Constellation
Author: TaraChun
Genre: Romance, Fantasy
Cast: ~ find by yourself

Disclaimer : This story is mine, don't be plagiator! Happy reading ^_^


Warning : Typo bertebaran >_< 


Secara singkat mereka tak bisa bersatu kembali karena keraguan menjadi sumber dari sebuah kehancuran. Rasa percaya pada ketakutan membuat kehilangan sesuatu yang berharga. Menyesal? Takkan bisa mengembalikan lagi semua yang telah hilang. Yah, sungguh ironis.

Setiap mereka yang selesai membaca atau mendengar kisah ini pasti tak pernah jauh dari air mata. Entahlah. Seolah kisah mereka menjadi suatu hal yang memang mewajibkan bagi setiap manusia ikut menangis karena perpisahan dan penyesalan dari awal kebahagiaan.

“Andai saja Orpheus tak menoleh ke belakang pasti ia akan bahagia dengan Eurydike,” suara lembut yang berbaur dengan jutaan bintang di langit malam itu bagai nada terindah yang menemani malam dengan diirikan petikan harpanya.

“Sudah kukatakan berulang kali padamu, Lyra. Kau terlalu menghayati membaca kisah Mitologi Yunani Kuno itu. Sekarang sudah zaman modern dan tak ada yang percaya dengan kisah seperti itu,” balas sebuah suara lainnya dari dalam kamar setelah mendengar ucapan gadis manis yang tengah menatap bintang di langit malam bersama petikan harpanya.

“Jika tidak ada yang percaya akan hal itu maka takkan pernah ada orang yang menulis buku seperti ini Vega.”

Yah, kedua gadis bersahabat itu tak lain Lyra dan Vega seperti biasanya berdebat kecil karena kisah Mitologi Yunani tentang romantisme Orpheus dan Eurydike. Lyra yang selalu membaca cerita itu setiap malamnya seolah menjadikan sebagai pengantar tidur sedangkan Vega yang bosan mendengar keluhan sahabatnya dengan selalu pertanyaan yang sama.

“Andai Orpheus tak menoleh ke belakang pasti ia akan bahagia bersama Eurydike.”

Selalu kurang lebih seperti itulah yang diucapkan Lyra setelah membaca kisah romantisme itu. Kebiasaan yang sudah diketahui oleh Vega sejak mereka pertama kali masuk asrama dan menjadi teman sekamar. Tak pernah sehari pun kalimat seperti itu berhenti keluar dari bibir Lyra.

“Baiklah! Terserah kau saja, aku mau tidur dan berhenti memetik harpamu!”

Akhirnya selalu Vega yang mengalah dengan kebiasaan Lyra tersebut. Yah, anggap saja angin lalu, begitulah isi pikiran Vega. Seperti permintaan sahabatnya, Lyra pun berhenti memtik harpanya dengan pandangan masih lurus ke langit, memerhatikan bintang-bintang yang bertaburan dengan indahnya meramaikan malam gelap.

“Selamat malam bintang-bintang, kuharap malam ini mendapat mimpi indah,” ujar Lyra seraya masuk ke dalam kamar dan meletakkan harpanya dengan sangat hati-hati seakan seperti kristal yang mudah pecah.

***

Sabtu, 24 Januari 2015

Rose Destiny (Part 5)


Author:: TaraChun
Main Cast::    Jiro Wang as Wang Da Dong
                        Rainie Yang as Yang Cheng Lin
Support Cast:: Fahrenheit, Mike He, Ariel Lin Yi Chen, Yang Fan | HIT– 5
Genre:: Fantasy, Romance
Length:: Chapter

Disclaimer:: Saya membuat cerita akan selalu berkaitan dengan Fahrenheit karna saya amat sangat mengagumi mereka. Buat yang baca harap komen kritik dan saran nya. Silahkan mengcopy tapi jangan mengakui itu karya kalian. Makasih.

Older Post: Part 1 , Part 2 , Part 3 , Part 4 

Prev Part  


“Apa maumu, hah?” bentak Yi Chen seraya berdiri tepat di depan Cheng Lin.


“Mauku?” Mike menyeringai semakin lebar, sungguh terlihat menakutkan. “Aku hanya ingin menjemput Queen of Oleander, calon istriku,” sahutnya semakin mendekat sementara kedua gadis itu mulai berjalan mundur.

“Aku tidak akan membiarkanmu membawa Cheng Lin,” Yi Chen masih merentangkan tangannya, mewaspadai gerakan Mike yang mungkin saja sama cepatnya seperti gerakan para vampire itu. Ia tidak mau melakukan kesalahan.



“Apa kau pikir aku akan menjadikan musuhku sebagai calon istri, hmm?” tanya Mike penuh penekanan seraya menampakkan kembali seringai iblisnya.

“A – apa maksudmu?” nada bicara Yi Chen yang semula penuh emosi kini berubah gugup dan ketakutan.

“Sepertinya kau cukup pandai untuk mengetahui maksudku, my queen,” sahut Mike yang kini sudah berada tepat dihadapan Yi Chen. Jarak mereka hanya terpaut sepuluh sentimeter.

Cheng Lin sendiri terlihat sudah mencerna dengan baik maksud ucapan Mike barusan. Ia terlihat panik sekarang dan dengan cepat menarik Yi Chen ke balik tubuhnya. Giliran dirinya yang melindungi Yi Chen dari Mike. Namun, sayangnya Cheng Lin masih seorang manusia sekarang. Tubuhnya kalah sigap dari Mike yang notabene memiliki kekuatan khusus. Bahkan Mike kini sudah berada di belakangnya dan menarik Yi Chen ke dalam dekapannya.

Damn! Sahabatnya sudah terkurung dalam dekapan posesif Mike sang Prince of Oleander. Yi Chen terus berusaha berontak namun tak ada hasilnya. Kekuatannya habis sudah dan tubuhnya lemas karena terlalu banyak mengeluarkan tenaga. Dalam sekejap mata mereka menghilang. Mike membawa Yi Chen pergi, sahabat terbaiknya menghilang.


“CALVIN! CALVIN! CALVIN!” Cheng Lin terus memanggil nama itu dalam hatinya, ia ingin menjerit namun akal sehatnya masih cukup berjalan baik. Saat ini ia sedang berada di sekolah, tak mungkin meneriakkan nama itu sekeras-kerasnya. Isakan tangis semakin keras terdengar dari bibirnya. “CALVIN! CALVIN!” lagi ia memanggil nama itu.


***


Saat ini di REGENNIS KINGDOM sedang disibukkan acara penyambutan kepulangan King and Queen dari REGNUM UNION. Terlihat dari seberapa antusiasnya para bangsa vampire itu menanti kabar baik dari King and Queen mereka. Berharap sudah ada jalan keluar dari mimpi buruk para makhluk immortal itu dari ancaman kepunahan.

“Semua persiapan sudah selesai?” Prince Evan datang bersama dengan Fahrenheit, memeriksa sampai sejauh mana persiapan pesta penyambutan sudah dikerjakan.

“Hampir selesai, putera mahkota,” sahut salah satu vampire yang bertugas untuk mengkoordinasi jalannya persiapan pesta penyambutan.

“Baiklah! Fahrenheit, ayo pergi!”

Perintah yang mutlak, tak terbantahkan oleh putera mahkota REGENNIS KINGDOM. Tanpa basa-basi dan menunggu lama, Fahrenheit langsung menghilang menuju ruang pertemuan bersama Prince Evan. Tentu, ada masalah serius yang harus mereka bahas.

“Jadi kakakku benar-benar akan segera kembali? Ia tidak merepotkan kalian kan?” pertanyaan Prince Evan ini sebenarnya lebih menjurus pada sosok vampire yang memiliki Fire Control pada dirinya.

“Memang sudah seharusnya kau bertanya padaku, ‘putera mahkota’! Di sini akulah yang menjadi korbannya,” sahut Jiro yang langsung menjawab pertanyaan pangeran mereka dengan menekankan kata ‘putera mahkota’.

“Oh! Benarkah?” pandangan Prince Evan memutar ke anggota Fahrenheit lainnya dengan dibalas seringaian oleh ketiga vampire tampan itu.

“Kalian semua memang bersekongkol!”

Tak ada yang membalas ucapan Jiro, mereka hanya mengangguk bersamaan seraya memamerkan evil smirk masing-masing. Menikmati karena berhasil membuat seorang Fire Control kembali bermain dengan auranya sendiri.

“SIAL!” geraman terlontar tiba-tiba dari bibir Calvin dan Prince Evan membuat ketiga vampire lainnya melihat mereka berdua yang saling tatap secara bergantian.

“Cepat pergi!” perintah Prince Evan dan saat itu juga Fahrenheit menghilang.